Sastrawan tingkat Dunia, Taufiq Ismail pernah kaget meneteskan air mata ketika membaca rambu-rambu untuk penulis.
Apakah benar kebanyakan penulis atau penyair sering lebay?
Istilah lebay=berlebihan, silakan anda baca blog ini sampai selesai.
Di forum lingkar pena FLP depok, insya Allah, saya memperkenalkan rambu-rambu dan ada trainer yang melatih menggunakan beberapa gaya bahasa.
Dalam pelajaran bahasa indonesia ada bab majas (gaya bahasa) hiperbol atau hiperbola, yaitu
menurut Kamus KBBI
hi·per·bol n ucapan (ungkapan, pernyataan) kiasan yg dibesar-besarkan (berlebih-lebihan), dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu
Hiperbola juga bisa bermakna: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
sebagai hiasan atau memperindah suatu tulisan.
Ada gaya bahasa yang dibolehkan seperti (kata yang dicetak biru tebal miring)
- "gantungkan cita cita mu setinggi langit"
- "cintaku seluas alam semesta"
- "ku duduk menunggumu di sini sudah seperti duduk bertahun-tahun"
Yang perlu penulis berhati-hati/tidak boleh ialah,
ketika penulis menggunakan gaya hiperbol atau hiperbola (kata berlebihan) yang menyangkut ketuhanan dan agama, karena penulis dan pembacanya bisa terjebak, bisa syirik atau bahkan melanggar syariat agama bila tidak berhati-hati. Contohnya:
"wahai istriku/suamiku, kau lah segala-galanya"
memang, Tidak semua penyair menggunakan gaya bahasa yang berlebihan, namun kenyataannya banyak penyair yang bermain kata secara berlebihan, membuat khayalan menyimpang yang berlebihan.
Seolah mereka sudah bosan dengan kata kata yang biasa saja, sehingga mereka membuat kata kata yang nyeleneh bin aneh agar mengundang perhatian pembaca.
Mengundang perhatian sih sah-sah saja, namun bila sudah sengaja berlebihan dan bahkan kadang melanggar sopan santun kepada Tuhan. Sepertinya ada baiknya jangan dilakukan
Ya sudahlah... Itu hak para penyair, kurasa mereka tahu resikonya
Para Penyair sepertinya kita pernah mendengar lagu "please deh... jangan Lebay... "
Kita boleh lebay kata tetapi harus lihat rambu-rambu.
Seperti supir, boleh saja supir ngebut, tetapi lihatlah/taati/patuhi rambu-rambunya.
Bahkan Sastrawan tingkat Dunia, Taufiq Ismail pernah kaget meneteskan air mata ketika membaca rambu-rambu untuk penulis tersebut di bawah ini.
Rambu-rambu agar terhindar dari gaya hiperbola yang dilarang dan yang dibolehkan ialah ada di AlQuran ada surah yang bernama
As-Syuara (Para Penyair) 224-227, fokus di ayat 227
225. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,
226. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?,
227. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
*Kesimpulan
Penulis/penyair dianjurkan beriman dan bekerja dalam kebaikan,sehingga banyak menyebut nama ALLAH dalam kehidupannya. sehingga ketika menulis, mereka hanya memakai gaya bahasa hiperbola (hiperbol) yang sewajarnya mengikuti rambu-rambu sang Maha Pencipta.
Mari bergabung dengan flp depok.
_________________________________________________________
*Blog ini diikutkan dalam Festival Menulis Milad FLP 2012
blog ini repost dari blog saya di http://www.ayahara.cybermq.com/post/detail/5197/penulis-penyair-please-de-jgn-lebaykonsep


1
murid menjadi menghargai sebutir beras perlu proses berbulan bulan untuk masuk ke dalam mulut, sehingga murid tidak ada lagi yg seenaknya menyisakan makanan (nasi walau sebutir)